Laporan Kualitas Media Semester Kedua 2020

19 April No author

 

Berbagai Perkembangan Peristiwa Global pada Semester II-2020 Berdampak terhadap “Brand Risk”, Menurut “Media Quality Report” Terbaru yang Dirilis IAS

“Media Quality Report” terbaru mencantumkan sejumlah standar untuk aspek “brand viewability”, “brand safety”, dan “brand suitability”, serta tindak penipuan iklan pada seluruh lingkungan iklan dan kanal digital

JAKARTA, Indonesia, 16 April 2021 /PRNewswire/ — Pada hari ini, Integral Ad Science (IAS), pemimpin industri global di sektor verifikasi iklan digital, menerbitkan “Media Quality Report” (MQR) Semester-II 2020. MQR menyajikan transparansi tentang kinerja dan kualitas media digital di Asia Pasifik, dan perbandingannya di tingkat global. MQR Semester II-2020 yang diterbitkan Integral Ad Science mengulas sejumlah tren brand safety, penipuan iklan (ad fraud), dan viewability untuk display advertising, iklan video, iklan pada perangkat seluler, serta iklan dalam aplikasi (in-app advertising).

Sejumlah ulasan penting dari laporan ini termasuk:

Indonesia Memiliki Brand Risk Tertinggi di Seluruh Dunia untuk Iklan Desktop Display dan Mobile Web Display

Setelah sejumlah berita dan peristiwa yang tak terduga berlangsung selama satu tahun, para pengiklan di Indonesia menghadapi lonjakan tingkat brand risk.

Aspek brand risk untuk iklan desktop display di Indonesia mencapai 8,2% pada Semester II-2020, tertinggi di seluruh dunia. Sementara, tingkat brand risk global tak berubah, yakni 4,4%, dibandingkan Semester II-2019. Sejumlah negara lain di Asia Pasifik, seperti Jepang, mengalami kenaikan 2,4 poin persentase (pp) menjadi 5,6%, Singapura mencapai 2,4%, dan Vietnam, pertama kali tercantum dalam MQR, mencapai 2,5%.

Untuk iklan mobile web display, tingkat brand risk di Indonesia tercatat sebesar 16% pada Semester II-2020, dua setengah kali lebih tinggi dari rata-rata global yang mencapai 5,8%. Singapura dan Vietnam masing-masing memiliki tingkat brand risk sebesar 3,5% dan 3,0%, sedangkan, Jepang dan Australia, masing-masing meningkat 2,8 pp (menjadi 10,4%) dan 1,7 pp (menjadi 4,2%).

Impresi video mengalami kenaikan brand risk di seluruh dunia pada Semester II-2020, tren yang cenderung berkorelasi dengan volume impresi iklan video sepanjang Semester II-2020. Tren ini menunjukkan korelasi antara brand risk dan meningkatnya konsumsi video di tengah perilaku konsumen yang lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Konten dewasa menjadi penggerak utama dalam lonjakan brand risk pada seluruh format secara global, seringkali diikuti dengan ujaran kebencian sebagai cerminan dari siklus berita global yang mengkhawatirkan.

Laura Quigley, SVP APAC, Integral Ad Science, berkata, “Kami telah mengukur brand risk yang sangat tinggi di Asia Pasifik, khususnya Indonesia. Kami mengajurkan klien agar tak hanya memantau, namun melakukan optimasi guna menghindari lingkungan periklanan yang tidak kondusif bagi merek mereka. Aspek brand risk menjadi tolok ukur yang sangat penting, serta berdampak langsung terhadap reputasi dan valuasi merek. Tahun 2020 menimbulkan berbagai konten berisiko, dan para pemasar memiliki pendekatan yang berbeda-beda. Beberapa pengiklan di Asia Pasifik terus menayangkan iklan yang berdampingan dengan konten tentang virus korona. Namun, pengiklan lain enggan menayangkan iklannya untuk sementara waktu. Setelah situasi berkembang, kalangan pemasar menjalankan pendekatan yang lebih kompleks. Mereka tak hanya memblokir, melainkan juga mempertimbangkan konteks dan sentimen dari konten yang berdampingan dengan iklan. Tujuannya adalah meningkatkan interaksi audiens dalam lingkungan periklanan yang bermutu dan memiliki konteks yang lebih tepat. Fitur programmatic pre-bid targeting memfasilitasi pembelian impresi iklan yang bermutu dan mengurangi pemborosan belanja iklan. Setelah berbagai tantangan yang muncul pada 2020, kalangan pemasar harus memperbarui pengaturan brand suitability secara berkala. Para pelaku pasar kini beralih menuju brand suitability dan contextual targeting sebagai solusi praktis yang memenuhi ketentuan privasi guna meningkatkan efisiensi, interaksi audiens, serta ROI.”

Aspek Viewability untuk Aplikasi Seluler di Asia Pasifik Lebih Rendah dari Rata-Rata Global

Aspek viewability meningkat untuk sebagian besar iklan mobile app display, rata-rata mencapai 72,1% di tingkat dunia. Hal ini terwujud berkat penggunaan Open Measurement Software Development Kit (OM SDK) dari IAB Tech Lab. Australia adalah satu-satunya negara di Asia Pasifik yang mengalami kenaikan viewability untuk iklan mobile app display, dari 69,9% pada Semester-II 2019 menjadi 73,0% pada Semester II-2020, mengalami kenaikan sebesar 3,1 pp. Selandia Baru mengalami penurunan drastis dalam aspek viewability untuk iklan mobile app display, menurun 12,4 pp menjadi 49,8% pada Semester II-2020; terendah di seluruh dunia. Sementara, di negara-negara Asia Pasifik lainnya, aspek viewability untuk iklan mobile app display lebih rendah ketimbang rata-rata global pada Semester II-2020. Aspek viewability di India mencapai 50,8%, Indonesia sebesar 65,2%, Singapura sebesar 69,9%. Aspek viewability yang lebih rendah melatarbelakangi penggunaan OM SDK secara lebih luas di Asia Pasifik.

Dibandingkan Semester II-2019, aspek viewability untuk inventori iklan desktop display menurun di seluruh dunia.

Tingkat Penipuan Iklan untuk Video Desktop Meningkat

Pada Semester II-2020, tingkat penipuan iklan (ad fraud) di dunia secara keseluruhan membaik. Tingkat optimised-against-ad-fraud menurun pada seluruh perangkat dan lingkungan periklanan. Di Asia Pasifik, Jepang dan Australia menjadi dua pasar yang mengalami lonjakan drastis dalam tingkat ad fraud. Jepang mengalami tingkat optimised-against-ad-fraud yang lebih tinggi untuk impresi iklan display, baik pada perangkat desktop dan mobile web. Australia juga mengalami lonjakan tersebut, khususnya pada iklan video desktop, dengan tingkat optimised-against-ad-fraud sebesar1,6%, atau dua kali lebih tinggi ketimbang angka tahun sebelumnya.

Untuk iklan desktop display pada Semester II-2020, Jepang memiliki tingkat ad fraud tertinggi di seluruh dunia, yaitu 2,9%, diikuti Singapura yang mencapai 2,6%, padahal, angka rata-rata global hanya 0,8%. Para pengiklan perlu memblokir aksi penipuan secara efektif, atau menggunakan metode pre-bid demi mengurangi pemborosan belanja iklan.

“Media Quality Report” terbaru menyajikan sejumlah analisis penting terhadap triliunan data yang diukur IAS setiap bulan di dunia.

Download report